Lahiran Ditunggui Sebentar, lalu Ditinggal ke Manokwari


 


Jepara - Bermula dari kisah pertemuan keduanya di Jember, Jawa Timur pada tahun 2008 lalu, Letkol Arm Suharyanto, S.Sos dan istri Eva Mardiatun Nisa menorehkan ribuan kisah perjalanan lainnya. Di belakang Letkol Arm Suharyanto, selalu ada sang istri yang mendampingi suami bertugas di berbagai daerah melindungi NKRI.

Ibu Persit Kelahiran Bondowoso, 18 Mei 1984 ini menceritakan, dulunya dia menempuh Pendidikan di jurusan Hukum Universitas Muhammadiyah Jember. Saat duduk pada semester 7 dia mulai magang di salah satu kantor notaris.

Namun pada Januari 2008, dia bertemu dengan Letkol Arm Suharyanto, S.Sos.  Setelah dirinya  wisuda pada Agustus, keduanya kemudian memutuskan menikah pada Desember 2008. "Sebenarnya setelah lulus saya sudah daftar S2, namun saya harus memilih apakah lanjut pendidikan atau menikah karena keduanya tidak bisa dijalani bersama. Akhirnya saya pilih apa yang membuat saya bahagia yakni menikah," katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Eva menyampaikan, dia bertemu dengan Letkol Arm Suharyanto, S.Sos setelah dikenalkan oleh salah satu temannya yang juga merupakan ibu persit. Saat itu suaminya masih berpangkat letnan satu (Lettu) di Batalyon Amred 8/Kostrad Jember. "Cukup singkat perkenalan kami, Januari bertemu setelah itu ditinggal kursus tiga bulan dan baru kembali bertemu April. Saat itu saya ditanya, "Apakah mau jadi ibu persit?" Saya jawab "Mau" dan akhirnya kami memutuskan menikah," tuturnya.

Dua belas tahun menikah dengan Arm Suharyanto, S.Sis banyak cerita dari perjalanan keduanya. Eva telah menemani suami bertugas di berbagai daerah, mulai dari Jember, Cimahi, Malang, Bandung, Jayapura, Manokwari dan saat ini di Jepara.

Saat awal menikah, Eva tak menampik dia dihadapkan pada situasi yang berbeda dari kehidupannya sebelumnya. Dia yang masih berusia muda harus masuk ke organisasi besar dan memiliki tanggung jawab di dalamnya. Namun karena sebelumnya sudah mengetahui konsekuensi sebagai istri prajurit, dia pun tak merasa berat dalam menjalaninya.

Sebagai istri prajurit, dia memiliki tanggung jawab untuk membina istri-istri tentara. "Namun tetap dalam pengawasan suami," tuturnya.

Dalam pembinaan itu, sering pula muncul persoalan yang dikemukakan oleh anggotanya. Kebanyakan merupakan masalah keluarga. "Saya sendiri dalam membina istri anggota selalu berupaya membuat suasana kekeluargaan penuh kasih sayang. Sehingga jika ada persoalan bisa diselesaikan dengan baik," terangnya.

Saat harus berpindah tugas, 

Ibu dari Muhammad yanuar ilham, 7, dan Tsania malaika zahra, 1,5, ini menjelaskan di manapun tempatnya selalu memiliki cerita yang berbeda. Semuanya memberinya pengalaman baru. "Dimanapun ditugaskan, ada kelebihan dan kekurangan. Yang jelas kami selalu bersyukur, Alhamdulillah keluarga kami selalu diberikan kesehatan dimanapun berada," ujarnya.

Salah satu yang cukup diingatnya yakni saat suaminya tugas di Manokwari pada 2018 lalu. Saat itu dia hamil besar dan harus melahirkan anak keduanya. "Kandungan saya saat itu ada masalah sehingga saya disarankan oleh dokter untuk pulang dan melahirkan di Jawa. Saat melahirkan hanya ditunggui beberapa hari kemudian suami kembali ke tempat tugas," tuturnya.

Untuk karakter anggota di tempat dinas sendiri, Eva menjelaskan tidak menjadi kendala. Sebab di setiap tempat tugas selalu ada orang dari berbagai suku dan daerah. "Misalnya ketika tugas di Papua, di sana juga banyak anggota dari Jawa," tuturnya.

Saat ini sudah 1 tahun 1 bulan dia mendampingi suaminya bertugas di Jepara. Sebelum pandemi Covid 19 dia memang aktif berkegiatan. Seperti kegiatan bersama anggota, undangan acara dan lainnya.

Namun setelah pandemi, dia lebih banyak beraktivitas di rumah. "Di rumah bersama anak-anak, karena anak-anak juga daring sehingga mendampingi mereka. Kegiatan off, paling hanya bersama bapak membina anggota terkait Covid-19," tuturnya.

Disinggung bagaimana mengatur waktu, Eva menyampaikan, dia tetap sebisa mungkin menyiapkan semua kebutuhan keluarga. Terlebih dia tidak memiliki asisten rumah tangga. "Jika ada kegiatan pagi, saya menyiapkan semua kebutuhan saat malam hari. Flexible waktunya," tuturnya.

Sejak dulu, dia selalu menyiapkan keperluan seragam dan makanan sendiri."Ada yang bantu kadang-kadang tapi sebatas bersih-bersih, tapi untuk kebutuhan keluarga semua saya handle sendiri," ujarnya.

Eva menambahkan, Jepara dirasakannya sebagai kota yang damai. "Benar-benar seperti namanya, yakni Jepara mempesona. Di sini dapat pelajaran baru seperti soal ukir, tenun troso dan lainnya," imbuhnya. (ks/zen/emy/top/JPR) (Pendim 0719/Jepara).

0 komentar:

Posting Komentar